Senin, 21 Juni 2010

Sistem Inovasi Nasional untuk Menjawab Tantangan Pasar Global

“85% pertumbuhan ekonomi, dipengaruhi oleh inovasi dan teknologi yang nantinya akan meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa. Penguasaan iptek suatu bangsa merupakan suatu hasil kerja besar dan berkesinambungan, karena nilai strategis workshop ini adalah untuk mendorong sinergi berbagai elemen bangsa untuk menciptakan suatu Sistem Inovasi Nasional (SINAS). SINAS berfungsi sebagai kerangka tempat tumbuh dan berkembangnya inovasi yang melibatkanpemerintah baik pusat maupun daerah. SINAS juga diperlukan dalam upaya untuk sinergi dan kolaborasi kebijakan, program dan kegiatan lintas kementerian”, demikian antara lain dikatakan Menteri Negara Riset dan Teknologi RI, Suharna Suryapranata, saat pembukaan Workshop Sistem Inovasi Nasional, Sistem Inovasi Daerah dan Manajemen Inovasi, di Ruang Komisi Utama BPPT, Senin (29/3).

“Pentingnya Sistem Inovasi Nasional bagi Indonesia adalah untuk menjembatani sisi supply dan demand teknologi. Sistem Inovasi Nasional merupakan suatu jaringan rantai pemasok teknologi yang mengaitkan antara institusi publik pemasok teknologi dan sektor swasta pengguna teknologi dalam suatu wilayah nasional (SINAS) atau daerah (SIDA) yang berinteraksi secara koheren dalam lingkup kegiatan memproduksi pengetahuan, menerapkan dan mendiseminasikan hasilnya sehingga manfaat nyata dapat dirasakan masyarakat”, lanjut Suharna.

Pembukaan workshop ini merupakan rangkaian dari kegiatan Workshop Sistem Inovasi Nasional, Workshop Sistem Inovasi Daerah dan Workshop Manajemen Inovasi. Workshop Sistem Inovasi Nasional dilaksanakan pada 30 Maret-1 April 2010 dan diikuti oleh perwakilan dari instansi terkait seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Perdagangan dan instansi lainnya. Sedangkan untuk Workshop Sistem Inovasi Daerah, direncanakan akan dilaksanakan pada 24-26 Mei mendatang dan akan dihadiri oleh stakeholder dari berbagai daerah. Selanjutnya Workshop Manajemen Inovasi akan dilaksanakan pada 13-15 April 2010 dengan peserta para inovator, intermediator teknologi dan kalangan industri.

Pada kesempatan yang sama, perwakilan dari Kedutaan Besar Jerman mengatakan bahwa inovasi adalah motor perkembangan ekonomi yang berkesinambungan. Persyaratan terbentuknya inovasi yang mandiri adalah ilmu pengetahuan, penelitian dan pendidikan. Dalam kerangka internasional, pihak Jerman akan membantu dalam penguatan penelitian dan pengembangan inovasi di negara-negara partner.

“Terdapat berbagai kendala yang dihadapi Indonesia dalam mengembangkan SINAS, diataranya yaitu belum adanya institusi yang kuat dari sisi legalitas otoritas dalam implementasi SINAS, belum adanya konsensus nasional tentang SINAS, belum adanya sistem aliran pengetahuan dan mobilitas human capital antara industri dan lembaga riset serta belum adanya skema pembiayaan venture capital dan iklim investasi yang memperkuat SINAS”, ungkap Ketua Tim Pembentukan Komite Inovasi Nasional, Muhammad Zuhal. dalam paparannya.

Untuk itu, Zuhal, yang juga Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, memberikan rekomendasi yang dianggap dapat mengatasi berbagai kendala tersebut. “SINAS harus berada dalam satu komando di bawah kepemimpinan Presiden sebagai kepala negara. Selain itu kita perlu membuat UU tentang SINAS dan regulasi yang memperkuat hubungan antara akademisi, industri dan pemerintah. Sedangkan untuk pendanaan, kita membutuhkan mekanisme venture capital dan menciptakan iklim investasi yang fokus dan terukur”.

Kepala BPPT, Marzan A Iskandar dalam presentasinya menekankan beberapa unsur utama yang harus dipenuhi dalam sistem inovasi, diantaranya (1) daya dukung pihak penyedia, (2) daya serap pihak pengguna, (3) kelembagaan antar muka dan keterkaitan para pihak yang saling menguntungkan, (4) infrastruktur yang terspesialisasi, dan (5) pendanaan serta kebijakan yang mendukung.

“Pada dasarnya sistem inovasi hanya dapat dikembangkan atas kemampuan membangun kompetensi dan memperkuat kolaborasi sinergis berbagai pihak. Penguatan SINAS memerlukan dukungan dari pimpinan puncak nasional dan masing-masing aktor inovasi atau lembaga iptek yang sesuai dengan peranannya. Kebijakan inovasi dapat ditentukan pada beragam tataran daerah dan nasional bahkan internasional, yang koherensi dan komplementasi satu dengan lainnya sangat penting”, tegasnya.

Lebih lanjut Marzan mengatakan, BPPT sebagai salah satu lembaga iptek dalam sistem inovasi nasional, mengajak berbagai pihak untuk bekerjasama dalam aktivitas litbangyasa dan aktivitas pendukung strategis. Hal itu dimaksudkan sebagai kontribusi dalam pengembangan sistem inovasi dan peningkatan daya saing.

“Dunia telah berubah, dan model persaingan serta tuntutan konsumen pun semakin tinggi. Hanya yang mengikuti perubahanlah yang mampu bertahan. Semua itu hanya dapat diwujudkan melalui inovasi”, tutur Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk, M. Syamsul Arifin.

Menurut Syamsul, persaingan bisnis saat ini tidak hanya melibatkan dunia usaha tapi juga melibatkan negara. Kelemahan selama ini yaitu tidak adanya sistem yang mendukung dan berkesinambungan dalam pengembangan inovasi baik inovasi teknologi maupun inovasi low cost. “Pemerintah perlu mendorong anggaran R&D Indonesia minimal 1% GDP. Dengan itu program riset unggulan yang mendukung dunia usaha dapat dibiayai”.

Pelaksanaan workshop ini melibatkan para ilmuwan, pemerintah daerah dan dunia usaha yang didukung oleh BPPT, LIPI, PI-UMKM dan VDI/VDE/IT dari Jerman. Diharapkan workshop ini akan menghasilkan masterplan atau roadmap penguatan Sistem Inovasi Nasional dan Sistem Inovasi Daerah. (KYRA/humas)


Sumber:

http://www.bppt.info/index.php?option=com_content&view=article&id=397%3Asistem-inovasi-nasional-untuk-menjawab-tantangan-pasar-global&catid=46%3Aumum&Itemid=219



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar